Guru Besar ITS Gagas Teknologi Bioremediasi dan Fitoremediasi untuk Pemulihan Lingkungan

Admin CPG, Jakarta – Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Harmin Sulistiyaning Titah menggagas teknologi bioremediasi dan fitoremediasi sebagai upaya pemulihan kualitas lingkungan di Indonesia.

Harmin mengatakan pengelolaan sumber daya alam yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang menurunkan kualitas lingkungan. “Oleh karena itu, pemulihan kualitas lingkungan hidup perlu dilakukan,” kata Harmin melalui keterangan tertulis, Senin, 1 April 2024.

Salah satu upaya yang digagas Harmin dalam memulihkan kawasan yang tercemar dari bahan pencemar organik dan anorganik adalah melalui remediasi. Upaya ini memanfaatkan teknologi fisik, kimia, biologi, dan kombinasi ketiga teknologi tersebut.

Namun, dari semua teknologi tersebut, teknologi pemulihan lingkungan biologis membutuhkan biaya yang lebih rendah. “Upaya biologisnya adalah fitoremediasi dengan memanfaatkan tumbuhan dan bioremediasi dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk pemulihan lingkungan,” katanya.

Peneliti kelahiran Malang ini mengatakan, kedua upaya tersebut menggunakan teknologi hijau karena ramah lingkungan dan tidak memerlukan banyak biaya seperti cara lainnya. Berdasarkan penelitiannya, teknologi ramah lingkungan mampu memangkas biaya hingga 30 persen tanpa menimbulkan dampak negatif lainnya. “Proses pemulihan yang alami dan mudah dilakukan menjadikan bioremediasi sebagai pilihan tepat dalam pemulihan lingkungan,” ujar alumni ITS ini.

Ada tiga prinsip umum dalam penerapan bioremediasi, yaitu biostimulasi, bioaugmentasi, dan natural attenuation. Biostimulasi dilakukan dengan merangsang mikroba asli, seperti menambahkan nutrisi berupa karbon, nitrogen, fosfat, dan kalium. Kemudian, bioaugmentasi menambahkan mikroorganisme eksogen. Terakhir, redaman alami mengatur kondisi intrinsik seperti populasi mikroorganisme yang tinggi, ketersediaan nutrisi, kondisi lingkungan yang mendukung, dan kontaminan yang mudah terurai secara hayati.

Harmin melakukan penelitian dengan menerapkan bioremediasi solar dan logam berat di area pembongkaran kapal. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengisolasi mikroorganisme yang memiliki kemampuan mendegradasi polutan secara biomolekuler. Kemudian, hasil isolat bakteri diuji morfologi bakteri seperti bentuk, ukuran, dan warna. Hasilnya, ditemukan lima jenis bakteri yang mampu mendegradasi polutan.

Harmin mengatakan metode yang digunakan dalam uji skrining adalah metode coretan pelat dengan cara menumbuhkan isolat bakteri pada media nutrisi yang tercemar bahan bakar solar. Hasilnya, pertumbuhan bakteri menunjukkan pertumbuhan bakteri yang baik dan mampu bertahan pada konsentrasi solar tersebut. “Kesimpulannya bakteri dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengurai solar,” kata Harmin.

Iklan

Setelah diperoleh isolat dari daerah tercemar, lanjutnya, dilakukan uji toksisitas bahan pencemar terhadap bakteri untuk mendapatkan isolat bakteri yang tahan terhadap bahan pencemar tersebut. Cara yang digunakan untuk mengetahui reaksi bakteri terhadap logam berat adalah dengan pengamatan langsung terhadap sel bakteri yang terkena. “Hasilnya, bioremediasi dapat menstimulasi antara augmentasi dan biostimulasi serta menghasilkan penurunan total hidrokarbon minyak bumi hingga 90 persen,” ujar guru besar pemulihan biologi lingkungan ini.

Sedangkan fitoremediasi merupakan upaya penyerapan bahan pencemar yang dimediasi oleh tanaman. Untuk memilih tanaman yang akan difitoremediasi, terlebih dahulu ditentukan senyawa pencemarnya. Tumbuhan yang mampu hidup pada daerah yang tercemar senyawa hidrokarbon diindikasikan mampu hidup pada lingkungan ekstrem. Penelitian ini memilih upaya fitoremediasi dengan memanfaatkan tanaman yang mampu menyerap logam berat.

Kemampuan tanaman mangrove dalam menyerap logam berat dari lingkungan menunjukkan bahwa tanaman ini dapat berperan sebagai fitoremediator pada daerah yang terkontaminasi logam. Namun, lebih baik memanfaatkan lima spesies tanaman dalam yang berbeda seperti tanaman merambat, semak, dan tanaman berkayu.

“Tujuannya agar akar tanaman yang berbeda dapat menjangkau daerah yang tercemar dan penambahan konsorsium bakteri yang tepat dapat meningkatkan efektivitas hasil remediasi,” kata Harmin.

Ia mengatakan, bakteri selalu hidup berdampingan dengan manusia. Aktivitas manusia sehari-hari selalu menghasilkan sampah. “Hasil penelitian ini diharapkan dapat memulihkan lingkungan yang tercemar dan mempercepat proses pemulihannya,” ucap alumnus doktor Universiti Kebangsaan Malaysia ini.

Pilihan Editor: Prakiraan Cuaca BMKG: Hujan Lebat dan Status Waspada di Sejumlah Provinsi pada Awal April